1.
Globalisasi mendatangkan ancaman, namun juga
mendatangkan peluang. Mengapa demikian ?
Jawab:
Dalam abad
21 ini semua Negara dihadapkan pada berbagai macam tantangan yang serius
terutama berkaitan dengan masalah kompetisi yang berdimensi global. Proses
globalisasi yang dipacu oleh kemajuan di bidang teknologi, transportasi dan
perdagangan akan membawa umat manusia kepada benturan di berbagai bidang
kehidupan terutama di bidang ekonomi.
Dewasa ini
masalah ekonomi adalah masalah semua Negara. Setiap Negara berusaha memajukan
ekonomi negaranya. Muncul kerjasama ekonomi antar Negara dalam suatu kawasan
yang ditandai dengan pelaksanaan Ekonomi pasar bebas dalam suatu kawasan
seperti CAFTA ( China,Asia Free Trade Area) . Dengan pelaksanaan pasar bebas
dalam suatu kawasan , maka suatu kebijakan ekonomi yang dilahirkan tidak dapat
lagi hanya didasarkan pada factor internal saja, tapi harus memperhitungkan
factor-faktor eksternal. Kebijakan ekonomi yang dikeluarkan harus betul-betul
memperhatikan corak perdagangan dunia yang sedang berlangsung.
Pelaksanaan
CAFTA yang sedang berlangsung sungguh sangat menakutkan bangsa Indonesia. Hal
ini disebabkan oleh karena kerusakan infrastruktur di berbagai bidang
kehidupan, iklim kerja yang belum baik di Indonesia dan SDM yang belum terampil.
Sementara China dengan tenaga kerja yang produktif akan membuat penganguran di
Indonesia akan bertambah karena dalam globalisasi pangsa pasar suatu produk
tidak lagi ditentukan oleh batas geografik, tapi ditentukan oleh daya tarik
produk tersebut terhadap konsumen.
Bicara
tentang ekonomi China, sejak abad lalu Jhon Naisbitt telah meramalkan bahwa
pada abad 21 ini China akan menjadi Negara terbesar di bidang ekonomi.Perubahan
sistem ekonomi di China di abad lalu, dari ekonomi Komunis menjadi
ekonomi pasar bebas , sekarang memperlihatkan hasilnya. Perubahan ekonomi di
China ini yang disebut Naisbitt sebagai salah satu paradoksal dalam
kondisi global telah berhasil meningkatkan kekuatan ekonomi negara ini.
Dalam pasar
bebas modal begitu bebas berpindah. Modal tidak peduli nasionalisme. Paham
pasar bebas dengan landasan geopolitik ekspansif yang mengandung homo
homini lupus pada waktunya akan dapat menghancurkan kehidupan,
karena Pasar bebas tidak memberi peluang kepada masyarakat miskin dan
pasar bebas juga tidak peduli pada keadilan social. Siapa yang kuat dan
memiliki modal akan berkuasa.
Situasi
ekonomi dalam pasar bebas menuntut peningkatan kemampuan ekonomi suatu Negara
sehingga mampu menangkap isyarat-isyarat pasar . Sesungguhnya dalam system
pasar bebas terhampar suatu peluang, yaitu pasar untuk berbagai produk semakin
luas, tetapi persaingan semakin ketat. Oleh karena itu, Indonesia harus
meningkatkan kualitas produknya agar dapat bertahan dalam system pasar bebas
CAFTA.
GLOBALISASI
PELUANG ATAU ANCAMAN?. JAWABANNYA TERGANTUNG KESADARAN BANGSA INDONESIA
MELAKONI HIDUP DI ERA GLOBALISASI INI.
2.
Salah satu
tantangan dalam melaksanakan perubahan adalah penolakan perubahan karena
perubahan bersifat dinamis dan mengandung unsur ketidakpastian. Bagaimana cara
mengatasi hal tersebut ?
Jawab:
Sebelum melaksanakan perubahan maka harus adanya
perencanaan yang matang, setelah itu rencana tersebut di sosialisasikan baik
kelebihan dan kekurangan perubahan tersebut. setelah itu di laksanakan maka
perubahan baru di laksanakan sehingga masyarakat sudah mengetahui hal tersebut.
Jadi cara mengatasinya yaitu dengan melakukan perencanaan yang matang.
David
(2001) mengusulkan tiga pendekatan yang dapat diterapkan:
§
Force change strategy. Bahwa perubahan harus
terjadi (dipaksakan) dan orang yang dapat mengharuskan terjadinya perubahan
adalah orang yang memiliki kekuasaan, yaitu pimpinan. Ketika pimpinan yang
memiliki kekuasaan formal telah memutuskan adanya perubahan, maka anggota
organisasi harus menerima perubahan tersebut. Pendekatan ini tidak selalu
buruk, jika diterapkan pada kondisi yang tepat.
§
Educative change strategy. Yaitu mengedukasi, atau
memberikan pengetahuan dan informasi tentang perlunya suatu perubahan. Melalui
edukasi, anggota organisasi diharapkan akan memahami pentingnya perubahan
sehingga merekapun akan menerima perubahan tersebut.
§
Rational/self-interest change strategy. Yaitu menunjukkan
benefit yang akan diperoleh individu dari diterapkannya suatu perubahan,
sehingga individu tersebut dengan sendirinya akan tertarik melakukan
perubahan-perubahan.
Terlepas dari manapun strategi yang kita
terapkan dalam mengatasi penolakan terhadap perubahan, hal-hal berikut ini yang
sangat menentukan keberhasilannya:
§
Komunikasi dan edukasi. Komunikasi maupun
edukasi harus dilakukan secara efektif, sehingga semangat dan ide dibalik
perubahan yang akan diterapkan dapat ditangkap oleh seluruh anggota organisasi.
Efektifitas komunikasi dapat menekan ketidakpahaman akan pentingnya perubahan
yang berujung pada penolakan. Ciptakan jalur-jalur komunikasi yang tepat dan
manfaatkan juga forum informal untuk mensosialisasikan suatu perubahan.
§
Keterlibatan dan partisipasi. Apresiasi dan
penghargaan terhadap kapabilitas anggota organisasi harus terus mendapat
tempat. Karena keterlibatan dan partisipasi anggota organisasi dalam mengadopsi
maupun mengimplementasi perubahan akan memotivasi dan mendorong semangat mereka
dalam menerima perubahan itu sendiri.
§
Dukungan dan fasilitasi. Ide perubahan tentu
saja membutuhkan dukungan dan juga fasilitas yamg memadai dari organisasi.
Terus mengakomodasi untuk munculnya ide-ide baru maupun penggodokan
langkah-langkah yang diperlukan untuk pelaksanaannya, menjadi sangat urgen.
Tanpa fasilitasi, perubahan hanya sebatas ide diatas kertas dan bahkan bisa
menimbulkan kesinisan atau sikap apatis.
§
Kesepakatan dan negosiasi. Perubahan yang akan
diterapkan organisasi mustinya bukan ide satu orang atau satu pihak saja,
melainkan hasil kesepakatan dan negosiasi lintas orang, tim ataupun fungsi. Hal
ini sangat penting untuk harmonisasi dan terhindar dari konflik yang justru
akan bersifat kontraproduktif.
§
‘Pemaksaan’ secara eksplisit dan implisit. Pemaksaan
pada suatu level tertentu seringkali dibutuhkan. Tentu kita harus menerapkannya
secara tepat dan proporsional, seperti aturan main yang tegas tentang bagaimana
perubahan akan dilaksanakan, atau ketika terjadi kemandekan.
§
Manipulasi dan kooptasi. Ini tentunya yang
harus dihindari dalam arti yang sebenarnya. Di era yang menuntut kesoliditasan
kerjasama tim ini, manipulasi dan kooptasi justru dapat mendorong munculnya
kecurigaan atau bahkan kemarahan yang sangat kontraproduktif.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar